Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR menyambangi Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian, Selasa (6/10), di Markas Polda Metro Jaya. Kedatangan MKD terkait kasus dugaan penganiayaan pembantu oleh anggota DPR berinisial IH. Tito mengatakan, pihaknya akan memanggil istri terlapor pada Jumat mendatang. "Kami (panggil) saksi dulu, (baru) bisa jalan. Saksi tanpa perlu izin presiden bisa kami panggil," katanya. Terkait status anggota Dewan, Tito menyebutkan, yang bersangkutan masih sebagai terlapor. Ia menjelaskan, dalam strategi penyidikan bisa memecah kasus menjadi dua karena kemungkinan tersangkanya ada dua. Wakil Ketua MKD Junimart Girsang mengatakan, tujuan kunjungan ke Polda Metro itu dalam rangka mencari informasi tentang adanya dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan IH dan istrinya. "Maka, kami dari MKD harus proaktif menyikapi persoalan ini agar kami juga bisa bersikap secara cepat dan bisa bersinergi dengan polisi untuk mempercepat kasus ini agar bisa dirasakan manfaatnya oleh publik," katanya. (RAY/RTS)
Ingin menggadaikan rumah? Karena rumah dijual sayang. Jangan khawatir, kebutuhan untuk rencana Anda dapat diatasi. Untuk keterangan, silakan hubungi Pak Hans TS di handphone/whatsapp 0819 3261 8088.
Kamis, 22 Oktober 2015
Selasa, 04 Agustus 2015
Tiga Brimob Dituduh Setrum Pembantu
TIGA dari empat anggota Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) diperiksa atas kasus penganiayaan terhadap MD, 17, pembantu rumah tangga.
Kasus yang menyeret aparat Brimob ini berawal dari adanya laporan pencurian batu akik dan perhiasan milik majikan MD. Kasus itu ditangani Polsek Oebobo, namun tidak cukup bukti sehingga MD dipulangkan. Namun, majikannya tidak puas dan selanjutnya melapor ke Brimob.
Berdasarkan laporan MD, saat diperiksa aparat Brimob, ia disiksa dengan disetrum memakai alat kejut milik Brimob pada leher dan tangan. Penyiksaan dilakukan selama 14 jam mulai pukul 12.00 hingga pukul 02.00 WIT dini hari. Selama disiksa, MD hanya diberi makan satu kali dan tidak boleh tidur. Wakapolda NTT, Komisaris Besar Sumartono mengatakan tiga oknum Brimob saat ini diperiksa secara intensif oleh Divisi Propam Polda. "Kalau terbukti, mereka bisa dipidana." terangnya. (PO/N-4)
KUNJUNGI KORBAN
Ketua Komnas Perlindungan anak (PA) Arist Merdeka Sirait bertemu MD, 17, pembantu rumah tangga yang dianiaya anggota Brimob Polda Nusa Tenggara Timur, di rumahnya di Kelurahan Manutepen, Kota Kupang, kemarin.
Rabu, 08 Juli 2015
Berangkat TKI Pulang Sarjana
MENJADI orang yang berguna bagi orang banyak nampaknya benar-benar dilakukan Heni Sri Sundani. Perempuan 28 tahun asal Ciamis, Jawa Barat, itu bercita-cita menjadi guru di sekolah alam dan pendidikan yang sudah dienyamnya di Hong Kong, Ia mengajak para petani untuk mengembangkan desa dengan konsep kampung wisata bisnis di Bogor, Jawa Barat.
Walau menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong, pekerjaan itu tidak seperti pembantu rumah tangga pada umumnya. Selama di sana, ia rajin ke perpustakaan untuk membaca buku dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Saint Mary's University mengambil jurusan manajemen entrepreneur. Informasi beasiswa itu ia dapatkan dari koran yang dibagikan gratis di sana.
"Kebetulan di Hong Kong itu hari Minggu libur kerja. Jadi saya menyempatkan kuliah di hari Minggu dan tanggal merah lainnya. Juga enaknya di Hong Kong, saya diperbolehkan mengirim tugas via e-mail di hari kerja dan pas hari libur baru saya datang ke kampus dan kuliah," kata Heni.
Berkat keuletannya, kerajinan, dan kepandaiannya, ketika kembali ke Indonesia, tidak saja membawa uang, Heni juga berhasil membawa gelar S-1 dengan nilai cumlaude. "Saya punya prinsip, berangkat boleh sebagai TKI, tapi pulang harus jadi seorang sarjana," ungkap Heni.
Tidak semata itu, koran dan majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong memberikan kesempatan mengasah bakat menulisnya. Ia menulis opini, resensi buku, artikel motivasi, cerpen, dan potret kehidupan TKI. Ia juga mengikuti berbagai lomba menulis. Dari hasil menulis dan memenangi lomba itulah Heni bisa mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku dan laptop.
Selama kuliah dan kerja itu pun, Heni selalu berusaha menyisihkan gaji kerjanya. Betapa senangnya Heni karena selain bisa bekerja dan bisa mengenyam pendidikan,. Ia bisa membantu keluarga yang ada di Indonesia. "Jadi itu memang sebuah kesempatan bagi diri saya yang sangat luar biasa dan saya harus bisa benar-benar memanfaatkannya," sambung Heni.
Wisata pendidikan
Bersama sang suami, Aditia Ginantaka, Heni membuat wisata pendidikan pertanian di Kampung Jampang, Bogor bernama Agroedu Jampang Community. Komunitas yang berisikan petani dan keluarga itu tidak hanya membuat kampung wisata, tapi juga membuat olahan oleh-oleh khas Bogor.
Bersama komunitasnya, Heni menciptakan gerakan anak petani cerdas. Kini sudah mencapai 5000 anak petani yang tersebar di lima kampung. Ia juga menyelamatkan anak-anak putus sekolah dengan memberikan beasiswa kepada para siswa berprestasi yang memiliki keterbatasan dana.
Tak hanya itu, dia juga menggagas gerakan pembangunan mandi cuci kakus (MCK), layanan posyandu keliling gratis setiap bulannya, serta memberikan makanan sehat dan bergizi untuk menyelamatkan anak-anak kampung yang mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk serta menolong warga yang membutuhkan pertolongan medis dengan biaya yang ditanggung dirinya sendiri.
Heni juga mengajarkan kemandirian dan meningkatkan kualitas hidup keluarga petani dengan membentuk kelompok tani dan kelompok wanita tani yang tersebar di desa-desa dekat tempat tinggalnya.
Di masa depan, ia berharap dapat mengembangkan komunitas itu menjadi sebuah yayasan yang bisa melakukan kegiatan lain untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. (Rio/M-4)
Rabu, 24 Juni 2015
Suami Lebih Berpihak Pada Pembantu
Pertanyaan Kepada Tabloid Nova oleh B di Kota X,
Saya sudah hampir 2 tahun menikah dnn punya seorang bayi usia 5 bulan. Rasanya saya makin jauh dari bahagia setelah memiliki rumah sendiri, padahal sayalah yang selama ini merengek pada suami dan minta pindah dari rumah mertua. Dalam keadaan punya bayi, mana enak, sih, Bu, kalau bayi kita menangis lalu ipar-ipar memberi kode bahwa mereka tak senang anak kita ribut. dari mula berdehem-dehem, sampai membanting pintu kamarnya (di sebelah saya) sambil mengomel, mengatakan tak bisa tidur karena ribut.
Karena tinggal dengan mertua, maka saya tak terlalu ikut campur dengan urusan masakan, dan lain-lain yang terkait dengan pembantu. Saya tak mau cari gara-gara dengan melanggar "batas" kekuasaan mertua perempuan yang amat menikmati perannya di dapur itu. Masaknya memang enak-enak, dan ia adalah ibu rumah tangga jempolan. susahnya ia amat ingin saya bisa seperti dia dalam menyediakan keperluan anaknya yang sekarang jadi suami saya.
Padahal, saya tidak dididik untuk jadi "ratu dapur" oleh ibu saya, karena beliau berpendapat, perempuan harus pandai agar bisa mandiri, secara ekonomi. Nyatanya, walau sarjana dan pernah bekerja dengan penghasilan bagus, kini suami melarang saya bekerja, karena ia melihat tak ada alasan bagi saya untuk bekerja. Uang sudah cukup, dan ada anak yang harus diurus pula.
Bu Rieny, jangan mengira saya ini kawin tanpa masalah. Bu. Suami adalah keturunan asing, sehingga waktu menikah, saya dapat tentangan hebat dari keluarga saya, demikian pula dari pihaknya. Apalagi, ia kemudian juga memeluk agama yang saya peluk. Sejauh ini, sebenarnya kalau masalah cinta, rasanya tak ada masalah. Perhatian dan kasih sayang suami saya rasa oke-oke saja. tapi di rumah, saya, kok, tidak bisa merasa seperti yang punya rumah. Pembantu, Bu!
Kami dibekali pembantu oleh mertua untuk membantu agar saya tak repot "judulnya". Manis, ya, Bu? Tapi, kenyataannya malah jauh dari harapan sebelumnya. Ia tak lebih dari mata-mata mertua, yang rajin menelepon dan menanyakan anaknya dimasakkan apa hari ini oleh istrinya, dan serangkaian pertanyaan lain yang membuat saya tak nyaman. Suami tak kurang-kurang sumbangannya pada situasi ini, karena setiap kali saya memcoba membuat masakan, ia selalu mengatakan masakan saya tak enak, tak sesuai dengan seleranya, dan lebih baik pembantu mama saja yang masak.
Terakhir, yang membuat saya naik pitam adalah ketika kami sedang makan dan pembantu setengah mengadu pada suami tentang anak yang menangis terus, dan sekilas ia katakan bahwa saya ini bukan hanya tak cakap di dapur, tapi rupanya juga tak terlalu sayang pada anak. Saya marah sekali, Bu. Lebih marah lagi pada suami, karena ia malah menyatakan diri untuk berpihak pada pembantu. bagaimana tidak, ketika saya mengusirnya, suami mengatakan tidak! ia katakan, bagaimana saya bisa menyelenggarakan rumah tangga kalau mengurus anak tanpa masak saja saya tak bisa.
Bayangkan, Bu Rieny, posisi saya rupanya seperti itu saja di hadapan suami. Saya juga tahu pasti bahwa pembantu sudah menelepon mertua, dan rupanya juga mendapat dukungan untuk bertahan saja. alangkah tidak nyamannya saya, kalau setiap pagi harus berinteraksi dengannya, melihat gayanya yang seakan-akan berkata, "Siapa, sih, kamu itu? Beruntung saja kamu dikawini oleh suamimu!"
Sudah 3 bulan ini terjadi, dan saya sungguh seperti hidup di neraka, Bu, tak mungkin meminta tolong keluarga saya. Orang tua sudah meninggal semua, adik-adik saya pun sibuk dan tidak tinggal sekota. Yang bisa saya jadikan penghiburan, kalau suami melihat saya tidak macam-macam dengan si pembantu, ia pun baik pada saya. Lalu, pada anak, si pembantu juga tampak telaten dan syang. Itu saja, bu, saya mencoba merasionalkan diri saat berhubungan dengannya.
Tapi, Bu, membayangkan saya "kalah" dengannya, sakit sekali hari ini. Apa yang harus saya lakukan, ya, Bu, mengeluarkannya tak mungkin, demikian selalu mengatakan tak mau berdiskusi kalau tentang Iyem, karena katanya ia kenal Iyem jauh lebih dulu sebelum kenal saya. Memang, ia sudah bekerja lebih dari 10 tahun pada keluarga suami. Bu. Bagaimana saya bisa keluar dari masalah ini, Bu? Terima kasih.
Jawaban Pengelola Rubrik Nova - Ibu Rieny,
Apa yang menjadi masalah Anda sekilas tampak remeh, tapi saya yakin memang bisa jadi makin serius dan menjalar kepada kerukunan keluarga, kalau Anda tak segera menyelesaikannya. Karena suami bisa saja lalu merasa, kok, susah sekali, sih, mendapat ketenangan, padahal sudah punya rumah sendiri, dan ada pula anak dan istri. Perbedaan pandangan tentang berat ringannya masalah adalah salah saru kendala yang menyebabkan permasalahan dalam sebuah perkawinan lalu sukar diselesaikan disini, tampak benar perbedaan antara perempuan dan lelaki dalam melihat dan menghayati permasalahan.
Suami, jelas berpikir praktis, dengan menjadikan HANYA dirinya sebagai acuan, bukan? Artinya, kalau kenyamanan saya terjamin, mestinya istriku tak perlu punya masalah. Makan enak, anak bisa terurus baik, dan keinginan istri juga sudah dituruti, punya rumah sendiri. Kalau kemudian masalah masih saja ada, ini namanya mengada-ada, alias reseh.
Istri, wah, barangkali air mata yang keluar sudah hampir berubah menjadi air mata "darah", karena bermuatan emosi yang berat sekali. dari mulai perasaan bahwa Anda KALAH oleh pembantu, sampai adanya konspirasi jahat alias persengkokolan antara mertua, nun di rumahnya sana, dengan agen atau mata-matanya di rumah Anda. Dari mulai perasaan bahwa suami lebih berpihak pada pembantu, sampai betapa sendiriannya Anda di dunia ini, karena Anda tak berdaya!
Nah, memang inilah sebenarnya dua masalah utama Anda, Bu. Satu, Anda tak berhasil membuat suami mampu melihat masalah dari sudut pandang Anda, dan demikian pula sebaliknya, suami juga tak merasa harus repot-repot membuat Anda paham akan cara pandangnya terhadap masalah ini. Yang kedua, Anda ingin sekali mengingkari kenyataan situasi saat ini (saya katakan saat ini, karena ini bukanlah suatu situasi yang tak bisa diubah), bahwa pada hal-hal tertentu, memang ada ketergantungan Anda pada pembantu "warisan mertua" itu. Mengenai kontrol jarak jauh mertua, dan pengalaman buruk dengan ipar-ipar dahulu, kita jadikan masalah ikutan sajalah, ya, artinya bukan keberatan utama Anda saat ini, bukan?
Untuk langkah awal, bagaimana kalau Anda juga mencoba untuk memahami bagaiaman suami melihat masalah ini, daripada memaksakan agar suami yang melakukannya terlebih dahulu. Ada konsekuensinya disini, tekan dulu EGO Anda,. Artinya, kalau ada impuls atau keinginan di dalam diri untuk mengatakan. "Mestinya, aku, kan, yang ia dengarkan", atau "Masak, sih, aku dibandingkan dengan si Iyem". Jangan Bu, tapi bayangkan, suami pulang kantor, lapar dan ingin makan (enak, seenak di rumah ibunya dulu). Kenapa, kok, ia harus "menderita" di rumahnya sendiri, bukan?
Dengan menemukan bahwa ketika istrinya memasak masih tak sesuai dengan seleranya, hemat saya, bagian yang paling sukar dari ini adalah ketika B harus mengakui kenyataan bahwa Iyem memang lebih kompeten dalam masak-memasak.
Tapi, ada "celah" yang sangat baik disini, sebenarnya. Coba diingat-ingat, B, apakah ada pernyataan suami bahwa Anda tidak kompeten sebagai ISTRI? Tidak, bukan? Sementara, Iyem, kan, ada di rumah Anda karena kompetensinya adalah masak-memasak.
Jadi, siapa yang meletakkan Anda dan Iyem untuk diperbandingkan? Justru Anda sendiri, bukan? penyebabnya, bisa banyak sekali. Dari kejengkelan Anda karena Iyem mengingatkan Anda akan ibu mertua, sampai kejengkelan Anda pada diri sendiri yang tak pandai masak!
Nah, celah ini bisa ditutup, kan? tak ada keharusan untuk membandingkan diri dengan Iyem dan tak perlu? Suami tak mengatakan Anda istri yang buruk, kok, dengan ketidakmahiran Anda dalam masak memasak. Mengapa tidak membiarkan saja Iyem berkerajaan di dapur? Dengan demikian, ia tak perlu memasuki wilayah Anda, bukan?
Kalau tekanan-tekanan dari Anda berkurang, apalagi disertai kesediaan yang tulus dari Anda uintuk mencoba melakukan rekonsiliasi alias berbaik-baik dengannya, bukan tidak mungkin, pada suatu hari Anda akan menemukan bahwa Iyem justru menjadi rekan tangguh Anda!
Saya sudah lama sekali merasa punya pembantu, Bu B. Karena dua orang di rumah saya itu, yang sudah ikut sejak anak saya yang kini mahasiswa berusia 5 bulan, sudah lama saya anggap sebagai bagian dari rumah dan keluarga saya. Tak terbayangkan oleh saya, apa yang saya bisa lakukan tanpa mereka. dan B mau tahu tidak resepnya? menjadikan mereka sebagai MITRA terpercaya saya di rumah, dan tidak masuk ke dalam wilayah yang jadi kompetensinya. saya mah sudah lama berhenti mencoba masak-memasak, B. Jelas, anak-anak dan suami lebih suka masakan Sri, daripada saya. Dan, yang saya dapatkan, bukan hanya bantuan menyelesaikan masalah rumah tangga B, melainkan juga sosok yang mengerti saya, bahkan jauh lebih mengerti ketimbang saudara kandung sendiri!
Logis, bukan, karena mereka bersama-sama saya sekian puluh tahun. Dan saya yakin, pola hubungan kami juga sudah bukan karena pekerjaan lagi, saya yakin mereka sayang dan peduli pada saya. buktinya, walau ada keputusan-keputusan dalam hidup yang saya buat, yang mereka juga tak begitu sukai, mereka tetap" mendampingi" saya, dan tidak meninggakan saya sekeluarga. beruntung sekali, ya, saya ini?
Tentu B, dan B juga pasti bisa seperti saya, kalau mampu menjadikan Iyem sebagai mitra dan bukan malah musuh di rumah sendiri. Katakan pada diri bahwa Anda punya otoritas di rumah Anda, dan atas izin Andalah Iyem boleh berkuasa di dapur. Jangan musuhi, tapi gunakan "kekuasaan" Anda untuk mengatakan padanya," Hari ini masak ini, ya, yem, Bapak suka, lo, masakannya yang itu!" bukankah komando tetap di tangan Anda? Atau, tanya pada suami di depan Iyem, "Mau makan apa hari ini, biar Iyem menyiapkannya untuk Abang."
Nah, setelah hubungan Anda membaik dengannya, percaya deh, ia juga akan kehilangan "kesenangan" mengadu pada mertua, wong ia sudah dapat, kok, apa yang ia butuhkan. Apa itu? Perasaan bahwa ia diterima, diakui kemampuannya, dan lebih penting lagi, dibutuhkan!
Tahap berikutnya, baru Anda perkenalkan pada Iyem, batas-batas mana yang tak boleh ia langgar. Misalnya, saat makan, Anda memang sebaiknya hanya berdua suami saja. Masak, sih, meladeni makan juga butuh asisten? Jadikanlah saat makan sebagai bagian dari kehidupan pribadi Anda. Di saat awal, bisa dengan memintanya menjaga anak, sementara Anda makan, Baik juga kalau pelan-pelan. Anda meningkatkan kompetensi Anda dalam masak memasak. Hati-hati, mulailah dengan jenis makanan yang lain dari yang disajikan Iyem. Kalau ia bisa memasak Chinese Food, cari keahlian di masakan Eropa, misalnya. Sesekali, demonstrasikan ini, artinya Anda juga membiasakan suami untuk mencoba selera yang lain, bukan?
Yang paling penting, SUASANA HATI itu lo, Non, yang harus diubah. Iyem bukanlah saingan yang harus dikalahkan, tapi mitra yang harus dipelihara perasaannya agar ia juga mau mengakui bahwa Ratu Rumah Tangga adalah Anda, dan bukan mertua Anda yang nun jauh disana.
Kalau saya terlihat seakan tak memihak Anda sama sekali, bukan maksud saya, lo. Saya cuma ingin mengingatkan Anda bahwa lingkungan tak bisa Anda ubah, apalagi Anda kuasai sepenuhnya. Yang Anda miliki hanyalah diri Anda. Karena itu, hanya ini yang memang bisa Anda manipulasi habis-habisan untuk membuat Anda bisa "survive" menghadapi tantangan hidup. Selamat memulai strategi baru, jangan pesimis, ya, B, karena Anda punya banyak modal dasar, kok, sebenarnya. cinta Anda dan suami, anak yang lucu, serta sebenarnya Iyem yang memang pandai masak dan sayang anak, bukan? Salam!.
Suami, jelas berpikir praktis, dengan menjadikan HANYA dirinya sebagai acuan, bukan? Artinya, kalau kenyamanan saya terjamin, mestinya istriku tak perlu punya masalah. Makan enak, anak bisa terurus baik, dan keinginan istri juga sudah dituruti, punya rumah sendiri. Kalau kemudian masalah masih saja ada, ini namanya mengada-ada, alias reseh.
Istri, wah, barangkali air mata yang keluar sudah hampir berubah menjadi air mata "darah", karena bermuatan emosi yang berat sekali. dari mulai perasaan bahwa Anda KALAH oleh pembantu, sampai adanya konspirasi jahat alias persengkokolan antara mertua, nun di rumahnya sana, dengan agen atau mata-matanya di rumah Anda. Dari mulai perasaan bahwa suami lebih berpihak pada pembantu, sampai betapa sendiriannya Anda di dunia ini, karena Anda tak berdaya!
Nah, memang inilah sebenarnya dua masalah utama Anda, Bu. Satu, Anda tak berhasil membuat suami mampu melihat masalah dari sudut pandang Anda, dan demikian pula sebaliknya, suami juga tak merasa harus repot-repot membuat Anda paham akan cara pandangnya terhadap masalah ini. Yang kedua, Anda ingin sekali mengingkari kenyataan situasi saat ini (saya katakan saat ini, karena ini bukanlah suatu situasi yang tak bisa diubah), bahwa pada hal-hal tertentu, memang ada ketergantungan Anda pada pembantu "warisan mertua" itu. Mengenai kontrol jarak jauh mertua, dan pengalaman buruk dengan ipar-ipar dahulu, kita jadikan masalah ikutan sajalah, ya, artinya bukan keberatan utama Anda saat ini, bukan?
Untuk langkah awal, bagaimana kalau Anda juga mencoba untuk memahami bagaiaman suami melihat masalah ini, daripada memaksakan agar suami yang melakukannya terlebih dahulu. Ada konsekuensinya disini, tekan dulu EGO Anda,. Artinya, kalau ada impuls atau keinginan di dalam diri untuk mengatakan. "Mestinya, aku, kan, yang ia dengarkan", atau "Masak, sih, aku dibandingkan dengan si Iyem". Jangan Bu, tapi bayangkan, suami pulang kantor, lapar dan ingin makan (enak, seenak di rumah ibunya dulu). Kenapa, kok, ia harus "menderita" di rumahnya sendiri, bukan?
Dengan menemukan bahwa ketika istrinya memasak masih tak sesuai dengan seleranya, hemat saya, bagian yang paling sukar dari ini adalah ketika B harus mengakui kenyataan bahwa Iyem memang lebih kompeten dalam masak-memasak.
Tapi, ada "celah" yang sangat baik disini, sebenarnya. Coba diingat-ingat, B, apakah ada pernyataan suami bahwa Anda tidak kompeten sebagai ISTRI? Tidak, bukan? Sementara, Iyem, kan, ada di rumah Anda karena kompetensinya adalah masak-memasak.
Jadi, siapa yang meletakkan Anda dan Iyem untuk diperbandingkan? Justru Anda sendiri, bukan? penyebabnya, bisa banyak sekali. Dari kejengkelan Anda karena Iyem mengingatkan Anda akan ibu mertua, sampai kejengkelan Anda pada diri sendiri yang tak pandai masak!
Nah, celah ini bisa ditutup, kan? tak ada keharusan untuk membandingkan diri dengan Iyem dan tak perlu? Suami tak mengatakan Anda istri yang buruk, kok, dengan ketidakmahiran Anda dalam masak memasak. Mengapa tidak membiarkan saja Iyem berkerajaan di dapur? Dengan demikian, ia tak perlu memasuki wilayah Anda, bukan?
Kalau tekanan-tekanan dari Anda berkurang, apalagi disertai kesediaan yang tulus dari Anda uintuk mencoba melakukan rekonsiliasi alias berbaik-baik dengannya, bukan tidak mungkin, pada suatu hari Anda akan menemukan bahwa Iyem justru menjadi rekan tangguh Anda!
Saya sudah lama sekali merasa punya pembantu, Bu B. Karena dua orang di rumah saya itu, yang sudah ikut sejak anak saya yang kini mahasiswa berusia 5 bulan, sudah lama saya anggap sebagai bagian dari rumah dan keluarga saya. Tak terbayangkan oleh saya, apa yang saya bisa lakukan tanpa mereka. dan B mau tahu tidak resepnya? menjadikan mereka sebagai MITRA terpercaya saya di rumah, dan tidak masuk ke dalam wilayah yang jadi kompetensinya. saya mah sudah lama berhenti mencoba masak-memasak, B. Jelas, anak-anak dan suami lebih suka masakan Sri, daripada saya. Dan, yang saya dapatkan, bukan hanya bantuan menyelesaikan masalah rumah tangga B, melainkan juga sosok yang mengerti saya, bahkan jauh lebih mengerti ketimbang saudara kandung sendiri!
Logis, bukan, karena mereka bersama-sama saya sekian puluh tahun. Dan saya yakin, pola hubungan kami juga sudah bukan karena pekerjaan lagi, saya yakin mereka sayang dan peduli pada saya. buktinya, walau ada keputusan-keputusan dalam hidup yang saya buat, yang mereka juga tak begitu sukai, mereka tetap" mendampingi" saya, dan tidak meninggakan saya sekeluarga. beruntung sekali, ya, saya ini?
Tentu B, dan B juga pasti bisa seperti saya, kalau mampu menjadikan Iyem sebagai mitra dan bukan malah musuh di rumah sendiri. Katakan pada diri bahwa Anda punya otoritas di rumah Anda, dan atas izin Andalah Iyem boleh berkuasa di dapur. Jangan musuhi, tapi gunakan "kekuasaan" Anda untuk mengatakan padanya," Hari ini masak ini, ya, yem, Bapak suka, lo, masakannya yang itu!" bukankah komando tetap di tangan Anda? Atau, tanya pada suami di depan Iyem, "Mau makan apa hari ini, biar Iyem menyiapkannya untuk Abang."
Nah, setelah hubungan Anda membaik dengannya, percaya deh, ia juga akan kehilangan "kesenangan" mengadu pada mertua, wong ia sudah dapat, kok, apa yang ia butuhkan. Apa itu? Perasaan bahwa ia diterima, diakui kemampuannya, dan lebih penting lagi, dibutuhkan!
Tahap berikutnya, baru Anda perkenalkan pada Iyem, batas-batas mana yang tak boleh ia langgar. Misalnya, saat makan, Anda memang sebaiknya hanya berdua suami saja. Masak, sih, meladeni makan juga butuh asisten? Jadikanlah saat makan sebagai bagian dari kehidupan pribadi Anda. Di saat awal, bisa dengan memintanya menjaga anak, sementara Anda makan, Baik juga kalau pelan-pelan. Anda meningkatkan kompetensi Anda dalam masak memasak. Hati-hati, mulailah dengan jenis makanan yang lain dari yang disajikan Iyem. Kalau ia bisa memasak Chinese Food, cari keahlian di masakan Eropa, misalnya. Sesekali, demonstrasikan ini, artinya Anda juga membiasakan suami untuk mencoba selera yang lain, bukan?
Yang paling penting, SUASANA HATI itu lo, Non, yang harus diubah. Iyem bukanlah saingan yang harus dikalahkan, tapi mitra yang harus dipelihara perasaannya agar ia juga mau mengakui bahwa Ratu Rumah Tangga adalah Anda, dan bukan mertua Anda yang nun jauh disana.
Kalau saya terlihat seakan tak memihak Anda sama sekali, bukan maksud saya, lo. Saya cuma ingin mengingatkan Anda bahwa lingkungan tak bisa Anda ubah, apalagi Anda kuasai sepenuhnya. Yang Anda miliki hanyalah diri Anda. Karena itu, hanya ini yang memang bisa Anda manipulasi habis-habisan untuk membuat Anda bisa "survive" menghadapi tantangan hidup. Selamat memulai strategi baru, jangan pesimis, ya, B, karena Anda punya banyak modal dasar, kok, sebenarnya. cinta Anda dan suami, anak yang lucu, serta sebenarnya Iyem yang memang pandai masak dan sayang anak, bukan? Salam!.
Selasa, 31 Maret 2015
Jumilah, PRT & Tidak Bisa Baca Tulis tapi Mendirikan Sekolah
Jumilah (30) perempuan Kampung Duduk Bawah, Desa Batu Layar, Nusa Tengggara Barat (NTB) tidak bisa baca tulis dan hitung-hitungan. Profesinya pun PRT. Setelah belajar otodidak, ia mengajar anak-anak belajar calistung di alam bebas. Berkat Jumilah, sekolah permanen sudah berdiri namun anak-anak didiknya seusai sekolah tetap belajar lagi bersamanya. Demikian pula Jumilah, tetap mengajar seusai bekerja di rumah majikannya.
Pada tahun 1987, Jumilah masuk Sekolah Dasar (SD) No. 5 Batu Layar. Seperti murid lain, ia rajin ke sekolah meskipun jarak antara rumah dan sekolahnya, cukup jauh dan melalui jalan setapak di pinggir kali.
Dari kampung Duduk Bawah, saat itu hanya tiga orang yang disekolahkan orang tuanya. Itu pun Jumilah sendiri yang perempuan. Menjelang kenaikan kelas, Kepala Sekolah minta sumbangan Rp 4.000 untuk membangun tembok halaman sekolah. Orang tuanya menolak memberikan lantaran tak memilik uang untuk menyumbang. Jumilah pun disuruh berhenti sekolah.
Sejak itu, anak bungsu dari 7 bersaudara pasangan Haris dan Nurisah itu membantu ibu dan ayahnya, mencari kayu bakar di hutan tak jauh dari kampungnya. dua tahun berhenti sekolah, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Majikannya sering memarahi karena Jumilah sering tekor jika disuruhnya berbelanja ke pasar. Ia sadar, ia tak bisa berhitung. Juga membaca dan menulis. Akibat seringnya melakukan kesalahan, maka Jumilah diberhentikan dari pekerjaannya.
Jumilah pun kembali masuk hutan membantu ibunya mencari kayu bakar untuk menyambung hidup. Tak terasa pada tahun 1995, Jumilah sudah beranjak menjadi gadis. Dan pada tahun itu juga ia disunting Ishak (kini 34 tahun)) pemuda pujaannya. sejak itu ia hidup sebagai ibu rumah tangga. Dari perkawinannya dengan Ishak, Jumilah dikaruniai 3 anak. Yang sulung kini sudah duduk di kelas XII SMA. Adiknya, SMP kelas VIII dan si bungsu baru 2 tahun.
PELAJARI BACA TULIS SAAT ANAK BELAJAR
Kisah hidup Jumilah menjadi menarik lantaran ia memendam semangat untuk belajar. Kendati sudah tidak muda lagi. Maka ketika anak sulungnya duduk di kelas II SD, diam-diam ia mengikuti anaknya mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah). Bahkan menghafal abjad dari A ke Z, ia pelajari dari anaknya. Sampai suatu ketika, anaknya sebel pada ibunya. "Ibu belajar begini-begini sudah ketinggalan zaman. Orang tua tidak usah mengikuti pelajaran anak-anak," kata anaknya yang ditirukan Jumilah dengan tersenyum geli mengingatnya.
Hingga anak sulungnya kelas V SD. Jumilah sudah lancar membaca dan menulis. Bahkan berhitung pun sudah bisa. Walaupun hitungan sederhana. Lalu timbullah niatnya untuk berbagi rasa dengan ibu-ibu dan anak-anak yang tidak sekolah di lingkungan Dusun Duduk Bawah itu. Dusun yang berpenduduk 120 KK (sekitar 335 jiwa) itu, 90 persen lebih tidak tersentuh pendidikan. Sementara orang tuanya total buta huruf. Kecuali Kepala Kampung, itu pun tidak tamat SD, katanya..
Dusun Duduk Bawah adalah kampung yang diapit Gunung Duduk dan Gunung Batu Bolong. sekitar 1 kilometer dari desa adalah areal kawasan wisata dunia, pantai Senggigi. Maka, orang tak akan menyangka, ada kampung terbelakang di balik glamor kehidupan malam di kawasan tersebut. Bahkan unbtuk baca tulis pun, bagi wargha di Dusun Duduk Bawah itu, bak minyak dengan air. Kondisi itulah yang menyemangati Jumilah. Tergerak hatinya untuk membimbing anak-anak tetangga usia sekolah di kampung itu, sekadar untuk bisa membaca, menulis dan berhitung saja.
MENGAJAK ANAK-ANAK BELAJAR DI ALAM
Terdorong oleh niat luhurnya itu, Jumilah akhirnya mengajar ala kadarnya. Padahal dia sendiri hanya bisa hafal abjad, membaca serta menulis nama-nama pohon, binatang dan alam lainnya. Selain mengajarkan calistung itu, Jumilah juga mengajarkan menggambar. Dari menggambar pohon kelapa, ia uraikan kegunaannya. Misalnya, pohon kelapa bisa tumbuh jika ditanam dan dipelihara. Kemudian manfaat buah kelapa, sabutnya jadi apa. Tempurungnya jadi apa. Isinya bisa dibuat apa dan seterusnya. Dari situlah Jumnilah menanamkan kesadaran siswa yang awalnya berjumlah 40 anak untuk mau tahu dan mau bisa.
Lokasi belajarnya pun tidak seperti sekolah pada umumnya. Jumilah mengajak muridnya di kebun atau sore hari di pinggiran hutan. Mereka belajar menulis nama daun-daunan dan pohon-pohonan. Lalu mereka kelompokkan sesuai jenisnya, selanjutnya dihitung dan jumlahnya berapa.
Setiap hari sehabis memasak untuk keluarga, Jumilah mengajari murid-muridnya tanpa imbalan apa-apa. Ibu tiga anak ini, menamakan muridnya "Murid Alam." Inspirasinya dari alam. Tahunya juga dari alam. Karena itu mereka sebut, alam adalah guru kami, katanya.
"Tidak ada kata terlambat kalau untuk belajar. Anak-anak saya bimbing belajar sambil mengenal alam. Alam yang luas ini, guru kita. Di balik tumbuhnya pohon-pohon, di situ ada ilmu yang diselipkan Tuhan. Maka itu yang saya tanamkan kepada anak-anak dusun ini. Agar mereka kelak tidak saja pintar, tapi juga sadar bahwa keberadaan alam, merupakan pelengkap kehidupan kita. Tanpa alam yang subur, manusia akan gersang. Dengan begitu, kita sadar, bahwa merusak alam sama dengan membunuh anak-anak di belakang hari", papar Jumilah.
DIBANGUN SEKOLAH
Pucuk dicinta ulam tiba, kata pepatah. Pada tahun 2003 masuklah Yayasan Tunas Alam Indonesia "Santai" sebuah LSM yang bergerak di bidang peningkatan pemberdayaan masyarakat. Ketika itu, murid-murid alam ini sedang giat-giatnya belajr calistung dan menggambar. LSM Santai lalau memfasilitasinya utnuk lebih berdaya guna dan mendapat perhatian kelangan berwenang. Santai juga memberikan bantuan alat tulis, buku gambar dan lain, bahkan termasuk tenaga pengajar. Kini kelompok belajar Jumilah bernama "Kahuripan." Berasal dari kata "urip" artinya hidup. Jadi Kahuripan dimaknai sebagai kehidupan bersama.
Sejak yayasan masuk Dusun Duduk Bawah, obyek sasaran belajarnya tidak saja anak-anak usia sekolah. Tapi orang tua yang memang rata-rata buta huruf. Dari lembaga itu Jumilah belajar banyak tentang manajemen dan organisasi. Di samping untuk belajar membuat laporan dan lainnya. "Saya belajar dan belajar terus, Pak," katanya.
Sumber dari majalah Kartini
Kamis, 12 Maret 2015
NEGARA BELUM LINDUNGI PEKERJA RUMAH TANGGA
Unjuk rasa pekerja rumah tangga dalam rangka memperingati Hari Peremapuan Internasiosnal di Jakarta, Mingga (8/3). Dalam aksinya, mereka menuntut pemerintah dan DPR untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
JAKARTA, KOMPAS - Negara, dalam hal ini pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat, dianggap belum melindungi pekerja rumah tangga. Selain belum meratifikasi Konvensi Organisasi Buruh Internasional 189 tentang Kerja Layak, pemerintah juga tidak menjadikan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dalam daftar prioritas Program Legislasi Nasional 2015 - 2019.
"Selama ini, nasib pekerja rumah tangga (PRT) ditentukan oleh majikan, bukan negara, "kata Lita Anggraini selaku Koordinator Jaringan Nasional Advokasi (JALA) PRT, saat jumpa pers "Peluncuran Rally 100 Perempuan Mogok Makan untuk PRT dan Peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret", di Jakarta, Sabtu (7/3).
Terhitung sejak Sabtu, 125 orang telah mendaftar untuk mengikuti aksi mogok makan yang dilakukan oleh sekitar 30 lembaga yang tergabung dalam JALA PRT dan Komite Aksi Perempuan.Lita sendiri mogok makan sejak 16 Februari lalu dan berat badannya turun 7 kilogram. Mereka menuntut Rancangan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) dan Konvensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) 189 diratifikasi.
"Kami akan melaporkan kepada dewan HAM PBB jika konvensi itu tidak diratifikasi," ucap Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus.
Presiden Susilo Bambang Yudhyono pernah berjanji akan menjadikan Konvensi ILO 189 sebagai acuan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan PRT saat berpidato di konvensi ILO tahun 2011, Geneva, Swiss. Hingga kini, konvensi itu belum diratifikasi.
Profesi pekerja rumah tangga belum memperoleh pengakuan dan penghargaan seperti profesi lainnya karena wilayahg kerjanya domestik, atau di dalam rumah tangga. Akibatnya, mereka belum mendapat perlindungan hukum sehingga rentan eksploitasi.
Tidak hanya di dalam negeri, PRT migran di luar negeri juga belum mendapat jaminan kerja layak. "Jika di dalam negeri saja PRT tak dilindungi, bagaimana yang di luar negeri?" ujar Zaenab, anggota Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI).
Zaenab, misalnya, menerima lebih dari 2.200 pengaduan dari para pekerja rumah tangga di luar negeri. Selama ini, PRT mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. JALA mencatat, jumlah kekerasan sepanjang 2012 mencapai 327 kasus dan naik menjadi 336 kasus pada 2013. Selama 2014, terdapat 408 kasus. Sebanyak 75 persen, kasus kekerasan fisik 'macet' di kepolisian.
Menunggu 11 tahun
Sudah 11 tahun sejak RUU PPRT diusulkan oleh masyarakat sipil pada 2004. RUU tersebut berisi, antara lain tentang pengaturan upah layak, hak untuk berorganisasi, hak mendapatkan libur mingguan dan tahunan, serta mendapatkan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja.
RUU PPRT dapat menjadi payung hukum untuk melindungi para pekerja itu. Namun, RUU itu gagal masuk prioritas Prolegnas.
Seruan serupa juga sampaikan Gerakan Perempuan Indonesia Beragam pada jumpa pers, Jumat (6/3), untuk memperingati Hari Perempuan Internasional 2015. "Masyarakat tahu sebetulnya bahwa mereka membutuhkan pekerja rumah tangga dan keberadaan pekerja rumah tangga sangat penting. Namun mereka akan terganggu jika jam kerja dan hak-hak lain pekerja diatur karena itu artinya kekuasaan majikan bisa berkurang," kata Dian Kartikasari dari Koalisi Perempuan Indonesia. (B05/LUK)
RUU PRT BELUM JADI PRIORITAS
Perlindungan bagi pekerja di sektor informal masih minim. Padahal, jumlah mereka cukup besar.
RANCANGAN Undang-Undang tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PRT) yang sudah masuk daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015 masih sulit untuk segera disahkan parlemen. Beberapa hal menjadi alasan.
Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Dian Kartikasari menilai peluang RUU itu disahkan tahun ini amat kecil, Jika berkaca dari pengalaman sebelumnya yang membolehkan setiap komisi di DPR hanya satu tahun membahas UU.
"Sepertinya kecil untuk dibahas hingga akhir tahun ini. apalagi, saya melihat kurangnya prioritas di dalam RUU ini. Maka dari itu, dalam Prolegnas nanti saya kira tidak sampai 50% RUU akan dibahas," ujar Dian saat dimintai keterangan di Jakarta, kemarin.
Lebih jauh ia juga menilai apabila RUU itu disahkan, pemerintah akan mengalami kesulitan dalam mengawasi penerapannya lantaran cakupan RUU yang terlalu spesifik hingga ke rumah-rumah.
Dian menambahkan, kunci keberhasilan pemerintah nanitnya terletak pada komunitas-komunitas masyarakat, termasuk RT hingga RW di setiap daerah. "Kalau cuma pemerintah yang bekerja sendiri berat sekali. Nggak mungkin kan pemeriksaan dari rumah ke rumah setiap hari," katanya.
Meski demikian, ia berpendapat secara keseluruhan RUU itu memiliki daya pelindungan yang kuat bagi PRT. Karena itu, Dian meminta agar diselenggarakan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat untuk memahami peraturan serta mekanisme terhadap RUU tersebut.
"Yang paling penting, pemerintah harus membuat sebuah kelembagaan yang dapat menegakkan peraturan dalam RUU tersebut."
Di tempat terpisah, anggota Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh menyatakan pihaknya sedang memperjuangkan RUU itu agar dapat segera disahkan. "Saya tidak tahu persis kapan, tapi kami akan berusaha agar RUU ini bisa masuk ke short list Prolegnas 2016," ujarnya.
Perlindungan minim
Keberadaan PRT tampaknya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Terbukti hingga saat ini RUU PRT yang telah disusun sejak 2004 itu belum menjadi prioritas untuk disahkan.
Padahal UUD 1945 pasal 27 ayat 2 menegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sebaliknya, perlindungan bagi pekerja di sektor informal ini masih minim.
Data KPI menunjukkan, mayoritas perempuan berusia 15 - 35 tahun dari 917 desa di pelosok Tanah Air memilih untuk bekerja di kota-kota besar menjadi PRT. Artinya, jumlah mereka cukup banyak.
"Diakui atau tidak, PRT memberikan sumbangan besar bagi jalannya roda pembangunan baik langsung maupun tidak. Tapi ironis, hal itu tidak diimbangi dengan perlindungan dan keamanan bagi mereka," kata Dian di sela peringatan Hari Perempuan Internasional di Jakarta, pekan lalu.
KPI juga menilai PRT rentan akan kekerasan, baik secar fisik, psikis, seksual, ekonomi, maupun sosial. Bahkan, akses komunikasi kepada sanak keluarga mereka pun sangat terbatas. Sayangnya, peraturan yang dibuat pemerintah, khususnya UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, tidak mencakup perlindungan bagi PRT. (Mut/S-3)
Richaldo Y Hariandja
richaldo@mediaindonesia.com
Langganan:
Postingan (Atom)
Jadi Saksi Kunci, Pembantu Jessica Masuk Perlindungan Saksi Polisi
PENYIDIK Polda Metro Jaya hingga kini masih mencari penyebab pasti mengapa Jessica Kemala Wongso membuang celana jinsnya, celana yang dip...
-
PENYIDIK Polda Metro Jaya hingga kini masih mencari penyebab pasti mengapa Jessica Kemala Wongso membuang celana jinsnya, celana yang dip...
-
RUSTI Sinaga,76, tewas dibunuh oleh Aminah, 30, pembantu rumah tangga yang baru sehari bekerja di rumahnya di Cluster Aralia Blok HY23/5 RT...
-
LEBARAN? Aduuuh! Itu berarti para pembantu mudik alias pulang kampung. Padahal, dalam sebuah rumah tangga di kota besar seperti Jakarta, ke...