Senin, 28 Maret 2016

Ngaku Dihipnotis 2 Pria PRT Curi Uang Majikan

Polisi: Diduga Berkomplot

KEBAYORAN LAMA (Pos Kota) - Mengaku dihipnotis dua pria, seorang pembantu rumah nekat mencuri uang pengusha konvekasi yang juga majikannya sebesar Rp 100 juta, Selasa (22/3) petang. Sehari setelah kejadian, sang PRT dicokok polisi, sedangkan dua pria yang diduga komplotan penjahat, diburu.

Tersangka Evi Lestari, 20, PRT (pembantu rumah tangga) itu kini meringkuk di ruang tahanan Polsek Kebayoran Lama. Dia tak menyangka bisa diperalat dua pria yang baru dikenal hingga nekat mencuri di rumah majikan, Jalan Terogong Kecil, Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Menurut keterangan, PRT tersebut baru bekerja selama 3 minggu di rumah warga India, tempatnya bekerja. "Tersangka mengaku dihipnotis dua pria sehingga nekat mencuri barang-barang milik majikan dan uang Rp 100 juta," kata Kapolsek Kebayoran Lama, Kompol Agus Rizal didampingi Kanit Reskrim AKP Budi Setiyono.

Modus kejahatan tersangka, kata AKP Budi Setiyono, dilakukan saat majikan tak ada di rumah. Tas berisi uang Rp 100 juta serta 2 iPad dan arloji Tag Heur, digasak.

HANYA ALASAN
Korban yang kehilangan tas berisi uang dan barang berharga itu, langsung melapor ke Mapolsek Kebayoran Lama. "Tersangka mengaku dihipnotis, tetapi itu  hanya alasan karena polisi menemukan alat bukti di HP tersangka, yakni pesan singkat berisi pertemuannya dengan dua pria yang disebut menghipnotis dirinya," tambah AKP Budi.

Saat ini, kata AKP Budi, Tim Buser Polsek Kebayoran Lama masih memburu dua pria yang diduga komplotan tersangka Evi. Polisi sudah memiliki petunjuk untuk meringkus kedua pria penjahat tersebut.

Barang bukti yang disita, kata AKP Budi, yakni HP Samsung Galaxy Grand Prime Dous putih, yang digunakan tersangka mengirim SMS ke satu pria yang diburu. Sedangkan uang Rp 100 juta dan perhiasan maupun iPad, digasak dua pria yang disebutkan tersangka.

Akibat perbuatan PRT itu, polisi menjeratnya dengan pasal 363 KUHP yang ancaman hukumannya selama 7 tahun penjara. (ian)

Sabtu, 05 Maret 2016

Menghargai Hak PRT Melalui Foto dan Video

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak dan Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Internasional diperingati dengan memutar film-film pendek karya anak-anak berusia 12 hingga 17 tahun. "Anak-anak harus memahami hak-hak PRT," ujar Arum Ratnawati, Kepala Penasihat Teknis untuk PRT,"  di Organisasi Buruh Internasional (ILO) Perserikatan Bangsa -Bangsa pada pemutaran catatan harian foto dan video bertema " Teman Remaja, Teman Setara: Cerita Persahabatan Kami dan PRT", di Jakarta Jumat (12/6). Acara menampilkan video dan foto karya 25 siswa SD, SMP, dasn SMA dari DKI Jakarta dan Makassar, Sulawesi Selatan, yang mengisahkan kehidupan PRT. Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Kampung Halaman Rachma Safitri, yang memproduksi karya-karya itu, PRT sering ditampilkan seperti "peri ajaib". Mereka jarang terlihat, tetapi hasil kerjanya selalu tampak dalam rumah tangga," katanya. (SNE)

Kamis, 22 Oktober 2015

Anggota DPR Diduga Aniaya Pembantunya

Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR menyambangi Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian, Selasa (6/10), di Markas Polda Metro Jaya. Kedatangan MKD terkait kasus dugaan penganiayaan pembantu oleh anggota DPR berinisial IH. Tito mengatakan, pihaknya akan memanggil istri terlapor pada Jumat mendatang. "Kami (panggil) saksi dulu, (baru) bisa jalan. Saksi tanpa perlu izin presiden bisa kami panggil," katanya. Terkait status anggota Dewan, Tito menyebutkan, yang bersangkutan masih sebagai terlapor. Ia menjelaskan, dalam strategi penyidikan bisa memecah kasus menjadi dua karena kemungkinan tersangkanya ada dua.  Wakil Ketua MKD Junimart Girsang mengatakan, tujuan kunjungan ke Polda Metro itu dalam rangka mencari informasi tentang adanya dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan IH dan istrinya. "Maka, kami dari MKD harus proaktif menyikapi persoalan ini agar kami juga bisa bersikap secara cepat dan bisa bersinergi dengan polisi untuk mempercepat kasus ini agar bisa dirasakan manfaatnya oleh publik," katanya. (RAY/RTS)

Selasa, 04 Agustus 2015

Tiga Brimob Dituduh Setrum Pembantu

TIGA dari empat anggota Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) diperiksa atas kasus penganiayaan terhadap MD, 17, pembantu rumah tangga.

Kasus yang menyeret aparat Brimob ini berawal dari adanya laporan pencurian batu akik dan perhiasan milik majikan MD. Kasus itu ditangani Polsek Oebobo, namun tidak cukup bukti sehingga MD dipulangkan. Namun, majikannya tidak puas dan selanjutnya melapor ke Brimob.

Berdasarkan laporan MD, saat diperiksa aparat Brimob, ia disiksa dengan disetrum memakai alat kejut milik Brimob pada leher dan tangan. Penyiksaan dilakukan selama 14 jam mulai pukul 12.00 hingga pukul 02.00 WIT dini hari. Selama disiksa, MD hanya diberi makan satu kali dan tidak boleh tidur. Wakapolda NTT, Komisaris Besar Sumartono mengatakan tiga oknum Brimob saat ini diperiksa secara intensif oleh Divisi Propam Polda. "Kalau terbukti, mereka bisa dipidana." terangnya. (PO/N-4)

KUNJUNGI KORBAN
Ketua Komnas Perlindungan anak (PA) Arist Merdeka Sirait bertemu MD, 17, pembantu rumah tangga yang dianiaya anggota Brimob Polda Nusa Tenggara Timur, di rumahnya di Kelurahan Manutepen, Kota Kupang, kemarin. 

Rabu, 08 Juli 2015

Berangkat TKI Pulang Sarjana

MENJADI orang yang berguna bagi orang banyak nampaknya benar-benar dilakukan Heni Sri Sundani. Perempuan 28 tahun asal Ciamis, Jawa Barat, itu bercita-cita menjadi guru di sekolah alam dan pendidikan yang sudah dienyamnya di Hong Kong, Ia mengajak para petani untuk mengembangkan desa dengan konsep kampung wisata bisnis di Bogor, Jawa Barat.

Walau menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong, pekerjaan itu tidak seperti pembantu rumah tangga pada umumnya. Selama di sana, ia rajin ke perpustakaan untuk membaca buku dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Saint Mary's University mengambil jurusan manajemen entrepreneur. Informasi beasiswa itu ia dapatkan dari koran yang dibagikan gratis di sana.

"Kebetulan di Hong Kong itu hari Minggu libur kerja. Jadi saya menyempatkan kuliah di hari Minggu dan tanggal merah lainnya. Juga enaknya di Hong Kong, saya diperbolehkan mengirim tugas via e-mail di hari kerja dan pas hari libur baru saya datang ke kampus dan kuliah," kata Heni.

Berkat keuletannya, kerajinan, dan kepandaiannya, ketika kembali ke Indonesia, tidak saja membawa uang, Heni juga berhasil membawa gelar S-1 dengan nilai cumlaude. "Saya punya prinsip, berangkat boleh sebagai TKI, tapi pulang harus jadi seorang sarjana," ungkap Heni. 

Tidak semata itu, koran dan majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong memberikan kesempatan mengasah bakat menulisnya. Ia menulis opini, resensi buku, artikel motivasi, cerpen, dan potret kehidupan TKI. Ia juga mengikuti berbagai lomba menulis. Dari hasil menulis dan memenangi lomba itulah Heni bisa mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku dan laptop.   

Selama kuliah dan kerja itu pun, Heni selalu berusaha menyisihkan gaji kerjanya. Betapa senangnya Heni karena selain bisa bekerja dan bisa mengenyam pendidikan,. Ia bisa membantu keluarga yang ada di Indonesia. "Jadi itu memang sebuah kesempatan bagi diri saya yang sangat luar biasa dan saya harus bisa benar-benar memanfaatkannya," sambung Heni. 

Wisata pendidikan
Bersama sang suami, Aditia Ginantaka, Heni membuat wisata pendidikan pertanian di Kampung Jampang, Bogor bernama Agroedu Jampang Community. Komunitas yang berisikan petani dan keluarga itu tidak hanya membuat kampung wisata, tapi juga membuat olahan oleh-oleh khas Bogor. 

Bersama komunitasnya, Heni menciptakan gerakan anak petani cerdas. Kini sudah mencapai 5000 anak petani yang tersebar di lima kampung. Ia juga menyelamatkan anak-anak putus sekolah dengan memberikan beasiswa kepada para siswa berprestasi yang memiliki keterbatasan dana. 

Tak hanya itu, dia juga menggagas gerakan pembangunan mandi cuci kakus (MCK), layanan posyandu keliling gratis setiap bulannya, serta memberikan makanan sehat dan bergizi untuk menyelamatkan anak-anak kampung yang mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk serta menolong warga yang membutuhkan pertolongan medis dengan biaya yang ditanggung dirinya sendiri.

Heni juga mengajarkan kemandirian dan meningkatkan kualitas hidup keluarga petani dengan membentuk kelompok tani dan kelompok wanita tani yang tersebar di desa-desa dekat tempat tinggalnya. 

Di masa depan, ia berharap dapat mengembangkan komunitas itu menjadi sebuah yayasan yang bisa melakukan kegiatan lain untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. (Rio/M-4)

Rabu, 24 Juni 2015

Suami Lebih Berpihak Pada Pembantu

Pertanyaan Kepada Tabloid Nova oleh B di Kota X,
Saya sudah hampir 2 tahun menikah dnn punya seorang bayi usia 5 bulan. Rasanya saya makin jauh dari bahagia setelah memiliki rumah sendiri, padahal sayalah yang selama ini merengek pada suami dan minta pindah dari rumah mertua. Dalam keadaan punya bayi, mana enak, sih, Bu, kalau bayi kita menangis lalu ipar-ipar memberi kode bahwa mereka tak senang anak kita ribut. dari mula berdehem-dehem, sampai membanting pintu  kamarnya (di sebelah saya) sambil mengomel, mengatakan tak bisa tidur karena ribut. 

Karena tinggal dengan mertua, maka saya tak terlalu ikut campur dengan urusan masakan, dan lain-lain yang terkait dengan pembantu. Saya tak mau cari gara-gara dengan melanggar "batas" kekuasaan mertua perempuan yang amat menikmati perannya di dapur itu. Masaknya memang enak-enak, dan ia adalah ibu rumah tangga jempolan. susahnya ia amat ingin saya bisa seperti dia dalam menyediakan keperluan anaknya yang sekarang jadi suami saya.

Padahal, saya tidak dididik untuk jadi "ratu dapur" oleh ibu saya, karena beliau berpendapat, perempuan harus pandai agar bisa mandiri, secara ekonomi. Nyatanya, walau sarjana dan pernah bekerja dengan penghasilan bagus, kini suami melarang saya bekerja, karena ia melihat tak ada alasan bagi saya untuk bekerja. Uang sudah cukup, dan ada anak yang harus diurus pula. 

Bu Rieny, jangan mengira saya ini kawin tanpa masalah. Bu. Suami adalah keturunan asing, sehingga waktu menikah, saya dapat tentangan hebat dari keluarga saya, demikian pula dari pihaknya. Apalagi, ia kemudian juga memeluk agama yang saya peluk. Sejauh ini, sebenarnya kalau masalah cinta, rasanya tak ada masalah. Perhatian dan kasih sayang suami saya rasa oke-oke saja. tapi di rumah, saya, kok, tidak bisa merasa seperti yang punya rumah. Pembantu, Bu! 

Kami dibekali pembantu oleh mertua untuk membantu agar saya tak repot "judulnya". Manis, ya, Bu? Tapi, kenyataannya malah jauh dari harapan sebelumnya. Ia tak lebih dari mata-mata mertua, yang rajin menelepon dan menanyakan anaknya dimasakkan apa hari ini oleh istrinya, dan serangkaian pertanyaan lain yang membuat saya tak nyaman. Suami tak kurang-kurang sumbangannya pada situasi ini, karena setiap kali saya memcoba membuat masakan, ia selalu mengatakan masakan saya tak enak, tak sesuai dengan seleranya, dan lebih baik pembantu mama saja yang masak.

Terakhir, yang membuat saya naik pitam adalah ketika kami sedang makan dan pembantu setengah mengadu pada suami tentang anak yang  menangis terus, dan sekilas ia katakan bahwa saya ini bukan hanya tak cakap di dapur, tapi rupanya juga tak terlalu sayang pada anak. Saya marah sekali, Bu. Lebih marah lagi pada suami, karena ia malah menyatakan diri untuk berpihak pada pembantu. bagaimana tidak, ketika saya mengusirnya, suami mengatakan tidak! ia katakan, bagaimana saya bisa menyelenggarakan rumah tangga kalau mengurus anak tanpa masak saja saya tak bisa. 

Bayangkan, Bu Rieny, posisi saya rupanya seperti itu saja di hadapan suami. Saya juga tahu pasti bahwa pembantu sudah menelepon mertua, dan rupanya juga mendapat dukungan untuk bertahan saja. alangkah tidak nyamannya saya, kalau setiap pagi harus berinteraksi dengannya, melihat gayanya yang seakan-akan berkata, "Siapa, sih, kamu itu? Beruntung  saja kamu dikawini oleh suamimu!"

Sudah 3 bulan ini terjadi, dan saya sungguh seperti hidup di neraka, Bu, tak mungkin meminta tolong keluarga saya. Orang tua sudah meninggal semua, adik-adik saya pun sibuk dan tidak tinggal sekota. Yang bisa saya jadikan penghiburan, kalau suami melihat saya tidak macam-macam dengan si pembantu, ia pun baik pada saya. Lalu, pada anak, si pembantu juga tampak telaten dan syang. Itu saja, bu, saya mencoba merasionalkan diri saat berhubungan dengannya. 

Tapi, Bu, membayangkan saya "kalah" dengannya, sakit sekali hari ini. Apa yang harus saya lakukan, ya, Bu, mengeluarkannya tak mungkin, demikian selalu mengatakan tak mau berdiskusi kalau tentang Iyem, karena katanya ia kenal Iyem jauh lebih dulu sebelum kenal saya. Memang, ia sudah bekerja lebih dari 10 tahun pada keluarga suami. Bu. Bagaimana saya bisa keluar dari masalah ini, Bu? Terima kasih.

Jawaban Pengelola Rubrik Nova - Ibu Rieny,
Apa yang menjadi masalah Anda sekilas tampak remeh, tapi saya yakin memang bisa jadi makin serius dan menjalar kepada kerukunan keluarga, kalau Anda tak segera menyelesaikannya. Karena suami bisa saja lalu merasa, kok, susah sekali, sih, mendapat ketenangan, padahal sudah punya rumah sendiri, dan ada pula anak dan istri. Perbedaan pandangan tentang berat ringannya masalah adalah salah saru kendala yang menyebabkan permasalahan dalam sebuah perkawinan lalu sukar diselesaikan disini, tampak benar perbedaan antara perempuan dan lelaki dalam melihat dan menghayati permasalahan.

Suami, jelas berpikir praktis, dengan menjadikan HANYA dirinya sebagai acuan, bukan? Artinya, kalau kenyamanan saya terjamin, mestinya istriku tak perlu punya masalah. Makan enak, anak bisa terurus baik, dan keinginan istri juga sudah dituruti, punya rumah sendiri. Kalau kemudian masalah masih saja ada, ini namanya mengada-ada, alias reseh.

Istri, wah, barangkali air mata yang keluar sudah hampir berubah menjadi air mata "darah", karena  bermuatan emosi yang berat sekali. dari mulai perasaan bahwa Anda KALAH oleh pembantu, sampai adanya konspirasi jahat alias persengkokolan antara mertua, nun di rumahnya sana, dengan agen atau mata-matanya di rumah Anda. Dari mulai perasaan bahwa suami lebih berpihak pada pembantu, sampai betapa sendiriannya Anda di dunia ini, karena Anda tak berdaya!

Nah, memang inilah sebenarnya dua masalah utama Anda, Bu. Satu, Anda tak berhasil membuat suami mampu melihat masalah dari sudut pandang Anda, dan demikian pula sebaliknya, suami juga tak merasa harus repot-repot membuat Anda paham akan cara pandangnya terhadap masalah ini. Yang kedua, Anda ingin sekali mengingkari kenyataan situasi saat ini (saya katakan saat ini, karena ini bukanlah suatu situasi yang tak bisa diubah), bahwa pada hal-hal tertentu, memang ada ketergantungan Anda pada pembantu "warisan mertua" itu. Mengenai kontrol jarak jauh mertua, dan pengalaman buruk dengan ipar-ipar dahulu, kita jadikan masalah ikutan sajalah, ya, artinya bukan keberatan utama Anda saat ini, bukan?

Untuk langkah awal, bagaimana kalau Anda juga mencoba untuk memahami bagaiaman suami melihat masalah ini, daripada memaksakan agar suami yang melakukannya terlebih dahulu. Ada konsekuensinya disini, tekan dulu EGO Anda,. Artinya, kalau ada impuls atau keinginan di dalam diri untuk mengatakan. "Mestinya, aku, kan, yang ia dengarkan", atau "Masak, sih, aku dibandingkan dengan si Iyem". Jangan Bu, tapi bayangkan, suami pulang kantor, lapar  dan ingin makan (enak, seenak di rumah ibunya dulu). Kenapa, kok, ia harus "menderita" di rumahnya sendiri, bukan?

Dengan menemukan bahwa ketika istrinya memasak masih tak sesuai dengan seleranya, hemat saya, bagian yang paling sukar dari ini adalah ketika B harus mengakui kenyataan bahwa Iyem memang lebih kompeten dalam masak-memasak.

Tapi, ada "celah" yang sangat baik disini, sebenarnya. Coba diingat-ingat, B, apakah ada pernyataan suami bahwa Anda tidak kompeten sebagai ISTRI? Tidak, bukan? Sementara, Iyem, kan, ada di rumah Anda karena kompetensinya adalah masak-memasak.

Jadi, siapa yang meletakkan Anda dan Iyem untuk diperbandingkan? Justru Anda sendiri, bukan? penyebabnya, bisa banyak sekali. Dari kejengkelan Anda karena Iyem mengingatkan Anda akan ibu mertua, sampai kejengkelan Anda pada diri sendiri yang tak pandai masak!

Nah, celah ini bisa ditutup, kan? tak ada keharusan untuk membandingkan diri dengan Iyem dan tak perlu? Suami tak mengatakan Anda istri yang buruk, kok, dengan ketidakmahiran Anda dalam masak memasak. Mengapa tidak membiarkan saja Iyem berkerajaan di dapur? Dengan demikian, ia tak perlu memasuki wilayah Anda, bukan?

Kalau tekanan-tekanan dari Anda berkurang, apalagi disertai kesediaan yang tulus dari Anda uintuk mencoba melakukan rekonsiliasi alias berbaik-baik dengannya, bukan tidak mungkin, pada suatu hari Anda akan menemukan bahwa Iyem justru menjadi rekan tangguh Anda!

Saya sudah lama sekali merasa punya pembantu, Bu B. Karena dua orang di rumah saya itu, yang sudah ikut sejak anak saya yang kini mahasiswa berusia 5 bulan, sudah lama saya anggap sebagai bagian dari rumah dan keluarga saya. Tak terbayangkan oleh saya, apa yang saya bisa lakukan tanpa mereka. dan B mau tahu tidak resepnya? menjadikan mereka sebagai MITRA terpercaya saya di rumah, dan tidak masuk ke dalam wilayah yang jadi kompetensinya. saya mah sudah lama berhenti mencoba masak-memasak, B. Jelas, anak-anak dan suami lebih suka masakan Sri, daripada saya. Dan,  yang saya dapatkan, bukan hanya bantuan menyelesaikan masalah rumah tangga B, melainkan juga sosok yang mengerti saya, bahkan jauh lebih mengerti ketimbang saudara kandung sendiri!

Logis, bukan, karena mereka bersama-sama saya sekian puluh tahun. Dan saya yakin, pola hubungan kami juga sudah bukan karena pekerjaan lagi, saya yakin mereka sayang dan peduli pada saya. buktinya, walau ada keputusan-keputusan dalam hidup yang saya buat, yang mereka juga tak begitu sukai, mereka tetap" mendampingi" saya, dan tidak meninggakan saya sekeluarga. beruntung sekali, ya, saya ini?

Tentu B, dan B juga pasti bisa seperti saya, kalau mampu menjadikan Iyem sebagai mitra dan bukan malah musuh di rumah sendiri. Katakan pada diri bahwa Anda punya otoritas di rumah Anda, dan atas izin Andalah Iyem boleh berkuasa di dapur. Jangan musuhi, tapi gunakan "kekuasaan" Anda untuk mengatakan padanya," Hari ini masak ini, ya, yem, Bapak suka, lo, masakannya yang itu!" bukankah komando tetap di tangan Anda? Atau, tanya pada suami di depan Iyem, "Mau makan apa hari ini, biar Iyem menyiapkannya untuk Abang."

Nah, setelah hubungan Anda membaik dengannya, percaya deh, ia juga akan kehilangan "kesenangan" mengadu pada mertua, wong ia sudah dapat, kok, apa yang ia butuhkan. Apa itu? Perasaan bahwa ia diterima, diakui kemampuannya, dan lebih penting lagi, dibutuhkan!

Tahap berikutnya, baru Anda perkenalkan pada Iyem, batas-batas mana yang tak boleh ia langgar. Misalnya, saat makan, Anda memang sebaiknya hanya berdua suami saja. Masak, sih, meladeni makan juga butuh asisten? Jadikanlah saat makan sebagai bagian dari kehidupan pribadi Anda. Di saat awal, bisa dengan memintanya menjaga anak, sementara Anda makan, Baik juga kalau pelan-pelan. Anda meningkatkan kompetensi Anda dalam masak memasak. Hati-hati, mulailah dengan jenis makanan yang lain dari yang disajikan Iyem. Kalau ia bisa memasak Chinese Food, cari keahlian di masakan Eropa, misalnya. Sesekali, demonstrasikan ini, artinya Anda juga membiasakan suami untuk mencoba selera yang lain, bukan?

Yang paling penting, SUASANA HATI itu lo, Non, yang harus diubah. Iyem bukanlah saingan yang harus dikalahkan, tapi mitra yang harus dipelihara perasaannya agar ia juga mau mengakui bahwa Ratu Rumah Tangga adalah Anda, dan bukan mertua Anda yang nun jauh disana.

Kalau saya terlihat seakan tak memihak Anda sama sekali, bukan maksud saya, lo.  Saya cuma ingin mengingatkan Anda bahwa lingkungan tak bisa Anda ubah, apalagi Anda kuasai sepenuhnya. Yang Anda miliki hanyalah diri Anda. Karena itu, hanya ini yang memang bisa Anda manipulasi habis-habisan untuk membuat Anda bisa "survive" menghadapi tantangan hidup. Selamat memulai strategi baru, jangan pesimis, ya, B, karena Anda punya banyak modal dasar, kok, sebenarnya. cinta Anda dan suami, anak yang lucu, serta sebenarnya Iyem yang memang pandai masak dan sayang anak, bukan? Salam!.

Selasa, 31 Maret 2015

Jumilah, PRT & Tidak Bisa Baca Tulis tapi Mendirikan Sekolah

Jumilah (30) perempuan Kampung Duduk Bawah, Desa Batu Layar, Nusa Tengggara Barat (NTB) tidak bisa baca tulis dan hitung-hitungan. Profesinya pun PRT. Setelah belajar otodidak, ia mengajar anak-anak belajar calistung di alam bebas. Berkat Jumilah, sekolah permanen sudah berdiri namun anak-anak didiknya seusai sekolah tetap belajar lagi bersamanya. Demikian pula Jumilah, tetap mengajar seusai bekerja di rumah majikannya.

Pada tahun 1987, Jumilah masuk Sekolah Dasar (SD) No. 5 Batu Layar. Seperti murid lain, ia rajin ke sekolah meskipun jarak antara rumah dan sekolahnya, cukup jauh dan melalui jalan setapak di pinggir kali.

Dari kampung Duduk Bawah, saat itu hanya tiga orang yang disekolahkan orang tuanya. Itu pun Jumilah sendiri yang perempuan. Menjelang kenaikan kelas, Kepala Sekolah minta sumbangan Rp 4.000 untuk membangun tembok halaman sekolah. Orang tuanya menolak memberikan lantaran tak memilik uang untuk menyumbang. Jumilah pun disuruh berhenti sekolah.

Sejak itu, anak bungsu dari 7 bersaudara pasangan Haris dan Nurisah itu membantu ibu dan ayahnya, mencari kayu bakar di hutan tak jauh dari kampungnya. dua tahun berhenti sekolah, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Majikannya sering memarahi karena Jumilah sering tekor jika disuruhnya berbelanja ke pasar. Ia sadar, ia tak bisa berhitung. Juga  membaca dan menulis. Akibat seringnya melakukan kesalahan, maka Jumilah diberhentikan dari pekerjaannya.

Jumilah pun kembali masuk hutan membantu ibunya mencari kayu bakar untuk menyambung hidup. Tak terasa pada tahun 1995, Jumilah sudah beranjak menjadi gadis. Dan pada tahun itu juga ia disunting Ishak (kini 34 tahun)) pemuda pujaannya. sejak itu ia hidup sebagai ibu rumah tangga. Dari perkawinannya dengan Ishak, Jumilah dikaruniai 3 anak. Yang sulung kini sudah duduk di kelas XII SMA. Adiknya, SMP kelas VIII dan si bungsu baru 2 tahun.

PELAJARI BACA TULIS SAAT ANAK BELAJAR
Kisah hidup Jumilah menjadi menarik lantaran ia memendam semangat untuk belajar. Kendati sudah tidak muda lagi. Maka ketika anak sulungnya duduk di kelas II SD, diam-diam ia mengikuti anaknya mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah). Bahkan menghafal abjad dari A ke Z, ia pelajari dari anaknya. Sampai suatu ketika, anaknya sebel pada ibunya. "Ibu belajar begini-begini sudah ketinggalan zaman. Orang tua tidak usah mengikuti pelajaran anak-anak," kata anaknya yang ditirukan Jumilah dengan tersenyum geli mengingatnya.

Hingga anak sulungnya kelas V SD. Jumilah sudah lancar membaca dan menulis. Bahkan berhitung pun sudah bisa. Walaupun hitungan sederhana. Lalu timbullah niatnya untuk berbagi rasa dengan ibu-ibu dan anak-anak yang tidak sekolah di lingkungan Dusun Duduk Bawah itu. Dusun yang berpenduduk 120 KK (sekitar 335 jiwa) itu, 90 persen lebih tidak tersentuh pendidikan. Sementara orang tuanya total buta huruf. Kecuali Kepala Kampung, itu pun tidak tamat SD, katanya..

Dusun Duduk Bawah adalah kampung yang diapit Gunung Duduk dan Gunung Batu Bolong. sekitar 1 kilometer dari desa adalah areal kawasan wisata dunia, pantai Senggigi. Maka, orang tak akan menyangka, ada kampung terbelakang di balik glamor kehidupan malam di kawasan tersebut. Bahkan unbtuk baca tulis pun, bagi wargha di Dusun Duduk Bawah itu, bak minyak dengan air. Kondisi itulah yang menyemangati Jumilah. Tergerak hatinya untuk membimbing anak-anak tetangga usia sekolah di kampung itu, sekadar untuk bisa membaca, menulis dan berhitung saja.

MENGAJAK ANAK-ANAK BELAJAR DI ALAM
Terdorong oleh niat luhurnya itu, Jumilah akhirnya mengajar ala kadarnya. Padahal dia sendiri hanya bisa hafal abjad, membaca serta menulis nama-nama pohon, binatang dan alam lainnya. Selain mengajarkan calistung itu, Jumilah juga mengajarkan menggambar. Dari menggambar pohon kelapa, ia uraikan kegunaannya. Misalnya, pohon kelapa bisa tumbuh jika ditanam dan dipelihara. Kemudian manfaat buah kelapa, sabutnya jadi apa. Tempurungnya jadi apa. Isinya bisa dibuat apa dan seterusnya. Dari situlah Jumnilah menanamkan kesadaran siswa yang awalnya berjumlah 40 anak untuk mau tahu dan mau bisa.

Lokasi belajarnya pun tidak seperti sekolah pada umumnya. Jumilah mengajak muridnya di kebun atau sore hari di pinggiran hutan. Mereka belajar menulis nama daun-daunan dan pohon-pohonan. Lalu mereka kelompokkan sesuai jenisnya, selanjutnya dihitung dan jumlahnya berapa.

Setiap hari sehabis memasak untuk keluarga, Jumilah mengajari murid-muridnya tanpa imbalan apa-apa. Ibu tiga anak ini, menamakan muridnya "Murid Alam." Inspirasinya dari alam. Tahunya juga dari alam. Karena itu mereka sebut, alam adalah guru kami, katanya.

"Tidak ada kata terlambat kalau untuk belajar. Anak-anak saya bimbing belajar sambil mengenal alam. Alam yang luas ini, guru kita. Di balik tumbuhnya pohon-pohon, di situ ada ilmu yang diselipkan Tuhan. Maka itu yang saya tanamkan kepada anak-anak dusun ini. Agar mereka kelak tidak saja pintar, tapi juga sadar bahwa keberadaan alam, merupakan pelengkap kehidupan kita. Tanpa alam yang subur, manusia akan gersang. Dengan begitu, kita sadar, bahwa merusak alam sama dengan membunuh anak-anak di belakang hari", papar Jumilah.

DIBANGUN SEKOLAH
Pucuk dicinta ulam tiba, kata pepatah. Pada tahun 2003 masuklah Yayasan Tunas Alam Indonesia "Santai" sebuah LSM yang bergerak di bidang peningkatan pemberdayaan masyarakat. Ketika itu, murid-murid alam ini sedang giat-giatnya belajr calistung dan menggambar. LSM Santai lalau memfasilitasinya utnuk lebih berdaya guna dan mendapat perhatian kelangan berwenang. Santai juga memberikan bantuan alat tulis, buku gambar dan lain, bahkan termasuk tenaga pengajar. Kini kelompok belajar Jumilah bernama "Kahuripan." Berasal dari kata "urip" artinya hidup. Jadi Kahuripan dimaknai sebagai kehidupan bersama.

Sejak yayasan masuk Dusun Duduk Bawah, obyek sasaran belajarnya tidak saja anak-anak usia sekolah. Tapi orang tua yang memang rata-rata buta huruf. Dari lembaga itu Jumilah belajar banyak tentang manajemen dan organisasi. Di samping untuk belajar membuat laporan dan lainnya. "Saya belajar dan belajar terus, Pak," katanya.

Sumber dari majalah Kartini   

Jadi Saksi Kunci, Pembantu Jessica Masuk Perlindungan Saksi Polisi

PENYIDIK Polda Metro Jaya hingga kini masih mencari penyebab pasti mengapa Jessica Kemala Wongso membuang celana jinsnya, celana yang dip...